Saatini Bisnis AMP
Ekonomi

Harga Saham BYAN Rp2.588 dan Rp11.200, Apa Perbedaan Transaksi Haji Isam dengan Pembelian di Pasar Reguler?

Haji Isam membeli 30,25 persen saham BYAN senilai Rp26,09 triliun. Mengapa harga transaksi Rp2.588 berbeda dari pasar reguler?

Oleh Tim Saat Ini
Pengalihan 30,25 persen saham BYAN kepada korporasi milik pengusaha Haji Isam (Andi Syamsuddin Arsyad) senilai Rp26,09 triliun memicu perhatian investor, sementara Low Tuck Kwong tetap menjadi pengendali PT Bayan Resources Tbk. (Foto: Dok. Kreasi Dola AI)

BISNIS SAAT INI - Mengapa harga saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) yang dibeli Haji Isam melalui transaksi jumbo Rp26,09 triliun memicu perdebatan di pasar modal Indonesia?

Apakah harga Rp2.588 per saham benar-benar murah ketika saham BYAN di pasar reguler pernah diperdagangkan jauh di atas level tersebut sepanjang 2026?

Lantas, bagaimana investor seharusnya menilai transaksi saham dalam jumlah besar ketika harga pasar reguler dan harga kesepakatan di pasar negosiasi menunjukkan perbedaan mencolok?

Said Didu Ingatkan Perbedaan Pasar Negosiasi dan Pasar Reguler

Pengamat kebijakan publik Muhammad Said Didu menilai harga saham BYAN sebesar Rp2.588 per lembar yang dibeli melalui perusahaan milik Haji Isam tidak bisa langsung dianggap murah hanya karena berada jauh di bawah harga pasar reguler.

“Ini kan orang enggak paham bahwa itu pasar yang berbeda. Kalau negosiasi memang begitu,” kata Said Didu, Rabu (28/10/2026).

Pernyataan tersebut menyoroti perbedaan mekanisme transaksi saham di pasar negosiasi dan pasar reguler yang menjadi pusat perhatian setelah pembelian saham BYAN dalam jumlah jumbo.

Transaksi Rp26,09 Triliun Libatkan 10,08 Miliar Saham

PT Jhonlin Baratama, korporasi milik pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam, menyelesaikan pembelian 10.084.088.370 saham BYAN atau setara 30,25% modal ditempatkan dan disetor pada Rabu, (7/10/2026).

Transaksi tersebut bernilai sekitar Rp26,09 triliun dengan harga pelaksanaan Rp2.588 per saham melalui pasar negosiasi, berdasarkan pemberitaan mengenai penyelesaian transaksi tersebut.

Nilai itu berbeda jauh dari harga saham BYAN di pasar reguler yang sempat berada di kisaran Rp12.000 per lembar, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai dasar penetapan harga dalam transaksi tersebut.

Said Didu Singgung Nilai Buku dan Cadangan Batu Bara

Said Didu juga mengingatkan bahwa penilaian terhadap harga saham tidak cukup hanya dengan membandingkan harga transaksi dan harga pasar reguler.

“Setelah terbuka kemarin bahwa sebenarnya Haji Isam sudah beli lebih mahal dua kali book value,” ujarnya.

Nilai buku atau book value menggambarkan nilai aset bersih korporasi, sedangkan penilaian terhadap korporasi pertambangan juga perlu mempertimbangkan nilai ekonomis cadangan batu bara yang dimiliki.

Dengan demikian, perbedaan harga transaksi dan harga pasar reguler belum cukup untuk menyimpulkan bahwa saham dibeli terlalu murah atau terlalu mahal tanpa mempertimbangkan konteks transaksi dan kondisi fundamental korporasi.

BEI Soroti Selisih Harga Transaksi BYAN

Perhatian terhadap transaksi tersebut juga datang dari Bursa Efek Indonesia yang meminta penjelasan mengenai pengalihan saham BYAN dengan harga Rp2.588 per lembar, jauh di bawah harga Rp11.200 yang tercatat pada transaksi pembelian saham oleh Low Tuck Kwong di pasar reguler pada 14 Oktober 2026.

Dalam tanggapan kepada BEI, manajemen BYAN menyatakan tidak menjadi pihak dalam transaksi tersebut sehingga belum dapat menjelaskan dasar penetapan harga pengalihan saham.

Manajemen juga menyatakan belum menerima informasi mengenai perubahan pengendalian hingga 22 Oktober 2026, sementara pemberitaan sebelumnya menyebut Low Tuck Kwong tetap menjadi pengendali setelah transaksi selesai.

Harga Transaksi Tidak Otomatis Menentukan Murah Atau Mahal

Polemik harga saham BYAN memperlihatkan pentingnya membedakan harga transaksi khusus, harga pasar reguler, dan nilai fundamental korporasi.

Bagi investor, penilaian yang lebih menyeluruh memerlukan informasi tentang mekanisme transaksi, struktur kepemilikan, aset, serta prospek bisnis batu bara, bukan hanya membandingkan dua angka harga saham.****

Haji Isam Saham BYAN Harga Saham BYAN Said Didu